Keanekaragaman Hayati sebagai sumber obat dan kosmetik

Indonesia memiliki 940 spesies tanaman obat, tetapi hanya 120 spesies yang masuk dalam bahan obat-obatan Indonesia. Masyarakat Pulau Lombok mengenal 15 spesies tumbuhan sebagai obat kontrasepsi. Spesies tersebut antara lain
1. Pule (Alstonia scholaris)
2. Laos (Alpinia Galanga Sw)
3. temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
4. alang-alang (Imperata Spec Div)
5. papaya (Carica Papaya L)
6. sukun (Artocarpus communis)
7. nanas (Ananas Comosus L Merr)
8. jahe (Croton argyratus)
9. jarak (Ricinus Communis Linn)
10. lada (Piper Ningrum L)
11. kopi (Coffea)
12. pisang (Musa paradisiaca)
13. lontar (Borassus flabelifer)
14. cemara (Casuarina Equisetifolia)
15. duwet ()
Bahan ini dapat diramu menjadi 30 macam obat-obatan.
Masyarakat Jawa juga mengenal paling sedikit 77 spesies tanaman obat yang dapat diramu untuk pengobatan segala penyakit. Masyarakat Sumbawa mengenal tujuh spesies tanaman untuk ramuan minyak urat, yaitu :
1. akar salban
2. akar sawak
3. akar kesumang
4. batang malang
5. dan kayu sengketan.
Masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu mengenal 71 spesies tanaman obat. Untuk obat penyakit malaria masyarakat daerah ini menggunakan sepuluh spesies tumbuhan, antara lain, yaitu Peronema canescens dan Brucea javanica yang merupakan tanaman langka.
Masyarakat Jawa mengenal 47 spesies tanaman untuk menjaga kesehatan ternak kambing dan domba, antara lain bayam (Amaranthus sp), temulawak, dadap (Erythrina), kelor (Moringa oleifera), lempuyang (Zingiber aromaticum), dan katuk (Sauropus androginus).
Masyarakat Alor dan Pantar mempunyai 45 spesies ramuan obat untuk kesehatan ternak, contohnya kulit kayu nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat diare pada kambing.

Di Jawa Timur dan Madura dikenal 57 spesies jamu tradisional untuk ternak yang menggunakan 44 spesies tumbuhan. Tumbuhan yang banyak digunakan adalah dari genius Curcuma (temuan-temuan). Di daerah Bone, Sulawesi Utara ada 99 spesies tumbuhan dan 41 famili yang digunakan sebagai tanaman obat. Tumbuhan yang paling banyak digunakan berasal dari famili Asteraceae Verbenaceae, Malvaceae, Euphorbiaceae, dan Anacardiaceae.
Potensi keanekaragaman hayati sebagai kosmetik tradisional telah lama dikenal. Penggunaan bunga-bungaan seperti cendana (Santalum album), kenanga (Canangium odoratum), melati (Jasminum sambac), mawar (Rosa sp), dan kemuning (Murraya paniculata) lazim dipergunakan oleh masyarakat Jawa untuk wewangian. Kemuning yang mengandung zat penyamak digunakan oleh masyarakat Yogyakarta sebagai salah satu bahan untuk membuat lulur yang berkhasiat menghaluskan kulit.
Tanaman pacar air digunakan untuk cat kuku, sedangkan ramuan daun mangkokan, pandan (Pandanus), melati (Jasminum sambac) dan minyak kelapa dipakai untuk pelemas rambut. Masyarakat Jawa juga mengenal ratus yang diramu dari 19 spesies tanaman sebagai pewangi pakaian, pewangi ruangan, dan sebagai pelindung pakaian dari serangan mikroorganisme. Selain itu, lndonesia mengenal 62 spesies tanaman sebagai bahan pewarna alami untuk berbagai keperluan. Misalnya jambu hutan putih digunakan sebagai pewarna jala dan kayu malam sebagai cat batik.

Categories: Biology | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: